Wednesday, December 28, 2011

Situs Watu Kandang Ngasinan

Situs yang saya kunjungi pada saat saya bertugas di solo tahun 2010 silam adalah sebuah peninggalan Megalitikum yang berada di sebuah areal persawahan. Cukup sulit juga menemukan keberadaan situs ini walupun sebenarnya berada di pinggir jalan dikarenakan tidak banyak warga yang tahu dan paham tentang situs ini.

Lokasi :
Dk.Ngasinan Lor, Ds.Karangbangun, Kec.Matesih, Kab.Karanganyar

Kompleks watu kandang ngasinan lor terletak pada tanah persawahan yang airrnya mengalir sepanjang tahun. Daerah ini termasuk daerah subur dan kesuburannya tersebut mungkin disebabkan oleh soil yang terbentuk dari hasil erupsi gunung lawu. Selain itu air dari gunung-gunung di sekitarnya yang mengalir sepanjang tahun menambah kesuburan daerah itu, air tersebut mengalir melalui kali samin yang terletak di sebelah utara ngasinan lor.

Lokasi watu kandang
Susunan batu yang berbentuk lingkaran (watu kandang)
Menhir
Dolmen
Kursi batu
Batu-batu diantara tanaman padi
Batu-batu diantara tanaman padi
Kebudayaan Megalhitikim yang ditemukan di Watu Kandang antara lain :
  1. Watu kandang : susunan batu besar bebentuk persegi dan membulatWatu kandang yang ditemukan di Matesih berbentuk empat persegi panjang dan ukuran setiap watu kandang berbeda serta jumlah dari setiap watu kandang yang terbentuk selalu genap. Watu kandang digunakan sebagai pemujaan untuk kesuburan dan sebagai kuburan.Menhir : tugu batu sebagai tanda peringatan nenek moyang
  2. Dolmen : berbentuk meja di sanggah kaki tempat meletakkan sesaji
  3. Lumpang batu : batu berlubang seperti tempat menumbuk padi
  4. Watu dakor : batu berlubang seperti alat untuk main dakon lambang kesuburan
  5. Kursi batu : berbentuk kursi tempat pertemuan nenek moyang 
  6. Meja batu : untuk meletakkan sesaji berbentuk meja 
  7. Gerabah : alat dari tanah liat terdiri dari mangkuk dan periuk
  8. Manik-manik : berbentuk bola heksagonal , tetragonal , berbahan batu kornelion

Pesanggrahan Gembirowati

Berkunjung ke Parangtritis tentunya semua orang sudah pernah, apalagi pantai yang terkenal dengan ombaknya yang besar dan Mitos Nyai Roro Kidul ini sangat menarik untuk dikunjungi. Selain pantai sebenarnya hal yang menarik bagi saya dari tempat ini adalah berkunjung ke Pesanggrahan Gembirowati. Memang tidak banyak orang yang tahu tentang keberadaannya, tetapi situs ini merupakan salah satu peninggalan Islam yang unik.

Lokasi :
Gembirowati terletak di Dsn.Watugajah, Ds.Girijati, Kec.Panggang, Kab.Gunung Kidul

Kunjungan ke tempat ini saya lakukan bersama dengan rombongan Bol Brutu setelah kami berziarah ke Makam Maulana Mahribi dan Makam Syeh Bela Belu. Bangunan ini diduga oleh masyarakat sekitar sebagai reruntuhan candi, namun sebenarnya adalah sebuah pesanggrahan yang dibangun pada jaman Mataram Islam. Tahun pembuatan dari candi ini tidak dikenal dengan jelas, dan kemungkinan besar candi ini dipakai untuk pemujaan terhadap Nyai Loro Kidul, yaitu ratu pantai selatan Jawa. Lokasi situs ini berada tidak begitu jauh dari pantai parangtritis.

Situs Gembirowati
Tangga masuk
Struktur terbuat dari batu putih dan hiasan dari batu koral
Struktur batu putih
Beberapa reruntuhan batu
Aku dan rombongan Bol brutu

Sejarah :
 Bangunan ini sebenarnya lebih cocok ke Situs Gembirowati karena bangunan ini merupakan bangunan peninggalan masa Islam bukan masa Hindu-Buddha.
Situs Gembirowati pernah dikunjungi oleh orang Belanda tahun 1902. F.D.K Bosch menyatakan bahwa arsitektur bangunan, bentuk pilar, dan hiasan yang ada diperkirakan peninggalan ini dibangun sekitar abad ke-16. Pernyataan Bosch tersebut ditulis dalam OV atau Oudheidkundige Verslag (laporan arkeologi Pemerintah Hindia Belanda) pada tahun 1925.
Penelitian selanjutnya diadakan pada tahun 1982 berupa studi pengumpulan data situs dan tahun 1984/1985 melalui studi kelayakan oleh PSPS DIY. Kegiatan studi pengumpulan data disertai pula wawancara dengan sumber-sumber yang diperkirakan mengetahui keberadaan situs tersebut. Kegiatan pengumpulan data dan studi kelayakan dilanjutkan dengan penggalian pemugaran yang dilaksanakan oleh kantor SPSP DIY pada tahun 1991 dan Kantor SPSP DIY bekerjasama dengan jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1992. (Sumber Wikipedia).

Situs Klodangan

Peninggalan berupa candi atau reruntuhannya di daerah jawa tengah memang sebagain besar terbuat dari batu andesit, tetapi ada juga beberapa penemuan yang menunjukkan bahwa ada juga candi yang ternyata terbuat dari batu bata dan batu putih. Situs yang saya datangi pada tahun 2010 ini adalah salah satu candi yang terbuat dari batu putih.

Lokasi :
Dsn.Klodangan, Ds.Sendangtirto, Kec.Berbah, Kab.Sleman

Situs klodangan merupakan salah satu peninggalan candi yang berada di daerah berbah. Lokasi situs berada di tengah sawah dan untuk menuju situs ini memang cukup sulit, selain harus bertanya sana-sini dan dusun klodangan sebenarnya masih jauh dari lokasi candi ini berada. Candi ini seluruhnya memang belum digali dan nampak ada beberapa struktur batu yang masih terpendam dan hanya digali sedikit. Batu-batu yang digunakan adalah batu putih berbentuk persegi yang sangat mudah sekali rusak dan terkikis oleh air hujan. Selain batu-batu candi tidak ditemukan arca, lingga atau yoni ditempat ini, sehingga latar belakang keagamaan candi ini belum dapat diketahui secara pasti.

Dibawah pohon kelapa ini situs klodangan berada
Situs Klodangan
Situs yang terawat dan asri
Struktur candi dari batu putih
Struktur candi yang masih terpendam

Bagian candi banyak yang sudah aus

Mengenai sejarah tentang candi ini tidak banyak yang saya dapatkan karena saat berkunjung ke tempat ini sang Juru Pelihara sedang tidak berada ditempat. Lokasi candi sangat asri dan terjaga kebersihannya, selain itu tempatnya yang sunyi dan tenang sangat cocok untuk refreshing sambil mempelajari sejarah.

Artefak candi di Museum Gula

Berkunjung ke Museum Gula Gondang Winangoen saya lakukan bersama-sama dengan rombongan blusukanku yaitu Bol Brutu setelah kami melakukan kunjungan ke Candi Merak dan Candk Karangnongko sekitar tahun 2010 yang lalu. Museum gula yang kami kunjungi termasuk salah satu cagar budaya peninggalan Kolonial dan sangat menarik untuk dikunjungi.

Lokasi :
Museum ini berada di jalan Jogja - Solo tepatnya berada di daerah Gondangwinangun Kecamatan Jogonalan Kabupaten Klaten.

Museum gula Gondang Winangoen
Museum ini berada bersebelahan dengan Pabrik Gula Gondang Baru (saat ini). Museum Gula didirikan sudah sejak lama, sejarah mencatat bahwa museum ini dibuat pada sekitar tahun 1982. Hal yang sebenarnya menarik bagi saya selain museum tersebut adalah adanya 2 buah artefak candi yang berada di museum ini. Ditempat ini terdapat sebuah Home Stay yang berada masih satu komplek dengan museum. Di halaman samping home stay tersebut terdapat sebuah Jaladhwara atau saluran pembuangan air pada sebuah candi yang berbentuk Makara.

Jaladwhara di Home Stay Gondang Winangun
Selain jaladhwara tersebut, dihalaman belakang Home Stay tersebut juga terdapat sebuah Yoni yang berukuran cukup besar, hanya sayang cerat pada yoni tersebut patah. Selain itu yoni tersebut sudah tidak terlihat menarik lagi karena sudah dicat hitam dan ditempat yang seharusnya dipasang lingga dipasang hiasan baru sehingga nilai seni & sejarahnya jadi hilang.

Yoni di home stay gondang winangun
Tidak diketahui dari mana kedua benda cagar budaya tersebut bisa berada ditempat ini. Apakah memang ditemukan disekitar pabrik gula ini dulunya, ataukah diambil dari suatu tempat??

Arca Bugisan

Arca Bugisan sering juga disebut dengan Arca Proliman adalah beberapa buah arca dan reruntuhan batu serta bagian-bagian candi yang tersebar di pekarangan rumah warga. Tempat ini aku kunjungi sekitar tahun 2010 bersama seorang teman blusukan.
Lokasi : 
Dsn.Bugisan, Ds.Purwomartani, Kec.Kalasan, Kab.Sleman

Ditempat ini terdapat 6 buah arca Buddha yang duduk berjejer dan berukuran cukup besar. Tidak diketahui bagaimana sejarah dari arca ini, apakah sejak dulu memang asli berada ditempat ini ataukah pindahan dari tempat lain?? Kondisi arca sudah tidak ada yang utuh lagi dan banyak bagian-bagian arca yang hilang / rusak.

Arca Buddha Bugisan
Selain 6 buah arca tersebut, tersebar di pekarangan penduduk, kebun dan juga makam banyak sekali batu2 candi yang berserakan dan tidak terawat. Batu tersebut ada yang berupa Makara, batu yang berhias / berelief, batu2 polos penyusun badan candi dan sebuah batu yang mirip stupa.

Batu-batu candi yang tersebar di kebun
Batu mirip stupa yang  berada di pekarangan warga
Hiasan Kala yang tergeletak di kebun
Makara yang berada didepan arca
Hiasan Kala



Dari peninggalan berupa arca Buddha serta batu2 candi yang tersisa ditempat ini , diperkirakan dahulu pernah ada sebuah candi Buddha yang cukup besar ditempat ini. Hanya sayang sejarah peninggalan ini tidak jelas dan warga sekitar juga tidak banyak tahu asal mula arca & batu2 candi tersebut. Lokasi tempat arca ini berada sebenarnya tidak jauh dari Kantor BP3 ( Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala) DIY.

Batu Candi di Pratjimohardjo

Dalam beberapa kunjungan ke candi lawang saya selalu melewati sebuah gapura besar berwarna biru yang membuat rasa penasaran saya. Setelah kunjungan terakhir ke cepogo tanggal 05 desember 2011 saya menyempatkan diri mampir ke tempat tersebut. Tempat tersebut adalah Pesanggrahan Pratjimohardjo yaitu pesanggrahan Pakubuwono X, salah satu raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Lokasi :
Desa Paras, Kec.Cepogo, Kab.Boyolali

Gerbang Pesanggrahan Pratjimohardjo
Pesanggrahan yang kini tinggal bekas bangunan dan puing-puing ini konon dulunya sangat megah. Saking mewahnya bahkan sampai seperti miniatur istana keraton. Selain dilengkapi dengan halaman luas yang luas, juga ada pendapa, tamansari dan dalem ageng yang sering digunakan oleh Sinuhun Paku Buwono X untuk tetirah. Tempat yang biasa digunakan untuk beristirahat sang raja itu kini tinggal puingnya saja. Bekas bangunan itu banyak ditumbuhi oleh tanaman liar seperti rerumputan.
Hal yang menarik dari pesanggrahan ini bagi saya adalah adanya beberapa batu2 candi yang tergeletak di salah satu halaman depan pesanggrahan ini. Jumlah batu-batu yang tersisa ditempat ini memang cukup banyak dan entah dari mana batu2 tersebut berasal / ditemukan dan bagian dari situs apakah??

Batu andesit yang merupakan bagian dari sebuah candi

Batu-batu ini tergeletak di depan pesanggrahan

Terdapat beberapa batu sudut sebuah candi


Friday, December 23, 2011

Sekilas tentang blusukan.....

Blusukan....yang bisa diartikan menjelajah suatu tempat untuk mencari sesuatu, walau hanya dengan modal nama daerah lokasi (dusun, kelurahan, kecamatan dan nama kabupaten / kota) walaupun seringkali kesasar (keblusuk) tapi  kegiatan ini saya lakukan bukan hanya sekedar hoby tetapi sudah menjadi seperti kecanduan. Blusukan yang saya lakukan memang saya untuk mencari keberadaan candi atau situs purbakala yang kurang dikenal oleh masyarakat. Kegiatan ini memang kadang dianggap seperti kurang kerjaan, tetapi istri maupun orang tua dan rekan2 pun mendukung apa yang kulakukan ini.
Blusukan yang saya lakukan memang hanya masih sebatas di wilayah Jateng & DIY saja, mengingat di kedua wilayah ini banyak sekali tersebar situs-situs purbakala era Hindhu - Buddha. Blusukan lebih banyak saya lakukan seorang diri dan kadang saya lakukan bersama teman atau rombongan yang memang memiliki hobi yang sama. Walau seringkali hasil blusukan tidak membuahkan hasil alias situs yang dicari hanya tinggal nama saja tidak membuat saya kecewa, karena memang itulah kondisi nyata tentang keadaan situs-situs purbakala yang ada di Indonesia, banyak yang hilang, rusak, dicuri dan terlantar. Blusukan ini juga sebagai upaya supaya kita sebagai warga Indonesia khususnya generasi muda bisa lebih mengenal, melestarikan dan menghargai sejarah bangsa kita. SALAM BUDAYA....Dan memang benar bahwa NYANDI ITU NYANDU...........