Friday, January 6, 2012

Candi Lumbung

Penjelajahan pada bulan november 2009 saya lanjutkan ke sebuah candi yang masih berada di daerah dukun ini. Blusukan saya saat itu sebelum terjadinya erupsi merpai sehingga baik jembatan sengi masih belum putus dan belum terjadi luapan lahar dingin di sungai apu. Candi yang akan saya datangi kali ini berada di tepi sungai pabelan dan juga berada dilahan persawahan warga sekitar. Bangunan tersebut bernama Candi Lumbung dan saat saya kunjungi bangunan ini dalam masa aman dari ancaman lahar dingin.

Saya di candi lumbung

Lokasi :
Dsn.Tlatar, Ds.Krogowanan,Kec.Sawangan, Kab.Magelang

Bangunan candi ini diperkirakan masih sejaman dengan candi asu dan candi pendem. Candi ini juga merupakan candi Hindhu peninggalan dari Mataram Kuno. Lokasi candi ini berada juga agak sulit dijangkau dengan kendaraan, jadi untuk menuju candi kita harus melewati pematang sawah dan kemungkinan bisa kesasar jika tidak teliti. Selain itu candi ini sebenarnya berada pada lokasi yang rawan sekali longsor, dikarenakan tepat berada hanya sekitar 1 m dari bibir Kali Apu.

Candi lumbung berada di bawah pohon kelapa tersebut
Candi ini hanya berjarak sekitar 1 m dari bibir kali apu
Candi ini diberi nama lumbung dikarenakan mungkin dahulu candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan beras (lumbung) oleh warga sekitar. Sedangkan sejarah kapan candi ini dibangun dan diketemukan juga tidak begitu jelas informasinya. Tidak adanya prasasti yang diketemukan di areal candi ini. Bangunan ini berukuran hampir sama dengan candi pendem yaitu dengan luas 8,7 m x 8,7 m, tinggi tangga 2,5 x 2 mdan dengan ketinggian 8 m dari lantai serta pada bagian tengah candi ini juga terdapat sumuran. Pada bagian badan candi dan relung tangga masih banyak ditemukan relief-relief yang sangat menarik diantaranya relief gana dan sulur-suluran. Makara pada tangga naik meskipun hanya tingga 1 juga masih dapar dijumpai walau sudah sedikit aus.

Tangga naik Candi Lumbung
Pintu masuk Candi Lumbung
Relief di relung tangga
Makara pada tangga naik
Ornamen di badan candi
Ornamen di badan candi
Simbar
Relief Gana
Relief bunga
Beberapa batu-batu yang belum disusun dibiarkan ditumpuk disamping candi dan ada juga yang tercecer disekitar candi. Pemugaran candi ini pun sepertinya juga belum tuntas sehingga banyak juga batu-batu candi yang ditumpuk didalam bilik candi.

Pekerja pemugaran candi lumbung di lokasi pemindahan
Rekonstruksi candi lumbung di lokasi pemindahan
Erupsi merapi tahun 2010 ternyata membawa efek yang sangat berbahaya bagi keberadaan candi ini. Terjadinya banjir lahar dingin yang melewati sungai pabelan membuat longsornya tebing-tebing disepanjang aliran sungai. Candi lumbung pun terancam longsor jika tidak diadakan tindakan penyelamatan. Akhirnya pada tahun 2011 candi lumbung pun dipidahkan sementara di Ds.Tlatar tepatnya menempati tanah milik kepala desa setempat untuk jangka waktu sekitar 5 tahun. Mudah-mudahan kedepannya candi ini bisa dikembalikan ke lokasi atau paling tidak bisa menempati lokasi yang aman dari ancaman lahar dingin.

Candi Pendem Sengi

Blusukan pada bulan november 2009 di daerah dukun saya lanjutkan ke sebuah candi yang terletak tidak begitu jauh dari candi asu. Candi tersebut juga berada di tengah-tengah lahan pertanian milik warga sekitar. Berbeda dengan candi asu yang mudah dijangkau karena berada di dekat jalan, akses menuju candi pendem cukup sulit dan bisa kesasar atau keblusuk jika tidak teliti. Tidak ada jalan setapak untuk menuju candi ini, jalan yang bisa ditempuh adalah melewati pematang sawah diantara rimbunya rumput gajah serta menembus lahan pertanian milik warga. Lokasi candi pendem dipagar keliling sehingga bisa sebagai patokan untuk menuju ke candi ini.

Saya di candi pendem

Lokasi :
Dsn.Candi Pos, Ds.Sengi, Kec.Dukun, Kab.Magelang

Sesuai dengan namanya candi ini bernama Candi Pendem (Pendem = bahasa jawa) yang berarti candi yang dahulu terpendam didalam tanah, hal tersebut bisa dilihat dari lokasi candi yang berada di kedalaman sekitar 3 m dibawah permukaan lahan pertanian disekitarnya.Tetapi candi ini tidak pernah terendam dikala hujan karena adanya saluran pembuangan air. Sama seperti candi asu, candi ini pintu masuknya menghadap ke barat.

Candi Pendem
Tangga naik Candi Pendem
Makara pada tangga yang masih unfinished
Sumuran candi
Sejarah penemuan candi ini tidak begitu banyak diketahui, mungkin dahulu candi ini diketemukan secara tidak sengaja oleh petani saat mencangkul lahan pertanian ini.
Candi pendem merupakan candi Hindhu dengan adanya relief gana pada salah satu bagian candi. Pada candi ini juga terdapat sumuran sama seperti di candi asu, hanya saja sumur ini sedikit lebih besar dan lebih dalam. Candi pendem juga hanya menyisakan bagian pondasi saja sedangkan bagian-bagian candi yang lain termasuk atap candi tidak diketemukan.

Hiasan pada tangga naik
Antefiks
Relief gana
 Ukuran candi pendem juga lebih besar dibandingkan candi asu. Tidak ada arca, yoni atau prasasti yang diketemukan di candi ini, tetapi diperkirakan candi pendem sejaman dengan candi asu dan candi lumbung yang berada tidak jauh dari candi ini. Hanya sayang candi ini terhimpit oleh lahan pertanian dan sulit dijangkau. Disamping itu tidak ada pos penjagaan di lokasi candi ini.

Thursday, January 5, 2012

Candi Asu Sengi

Daerah dukun yang berada di kabupaten magelang memiliki peninggalan klasik yang cukup banyak. Diantaranya ada yang berupa candi dan tersebar pula situs-situs purbakala yang sudah banyak dilupakan masyarakat. Blusukan ke daerah ini saya lakukan pertama kali untuk mengunjungi 3 buah kompleks candi yang cukup dikenal oleh masyarakat dengan nama Kompleks Candi Sengi. Candi yang bernama saya kunjungi adalah Candi Asu, nama Asu disini berasal dari bahasa jawa yang jika diterjemahkan artinya anjing. Asal kata ini ada beberapa penjelasan, Asu berasal dari kata aso ( Ngaso = bahasa jawa) yang diterjemahkan berisitirahat. Candi ini mungkin dulu digunakan untuk tempat ngaso atau beristirahat para pendeta. Penjelasan kedua di candi ini pernah ditemukan arca nandi ( lembu wahana Dewa Syiwa) yang sudah aus dan penduduk sekitar mengira adalah arca asu (anjing).

Saya di Candi Asu Sengi

Lokasi :
Dsn.Candi Pos, Ds.Sengi, Kec.Dukun, Kab.Magelang

Candi ini kondisinya berada ditengah-tengah lahan pertanian milik warga dan bisa dikatakan terhimpit oleh lahan pertanian tersebut. Candi ini hanya menempati lokasi yang cukup sempit dan ruang gerak untuk memotret candi ini pun sangat terbatas. Candi Asu berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 7,94 meter.

Hiasan Makara ditangga naik yg masih Unfinished
Tangga naik ke candi
Bagian samping candi & relung arca
Sumuran candi
Batu candi yang ditumpuk dan belum terpasang
Ornamen di candi asu
 Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Candi ini merupakan candi Hindhu dengan bukti diketemukannya arca nandi, meskipun tidak ada arca maupun yoni yang ditemukan di lokasi ini. Dibadan candi tidak terdapat banyak relief hanya ada beberapa bagian candi yang dihiasi dengan ornamen yang unik. Ditengah candi terdapat sumuran candi yang berukuran cukup dalam.Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasati batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I ( 874 M ) dan Sri Manggala II ( 874 M ).

Candi Kedulan

Dari sekian banyak candi yang saya kunjungi ada beberapa candi yang kondisinya sejak diketemukan sampai saat ini belumlah tuntas penanganannya. Hal itu berakibat terlantarnya candi-candi tersebut dan terkesan dibiarkan begitu saja, meskipun ada beberapa yang diberi pos penjaga dan security. Candi yang saya kunjungi ini termasuk salah satu candi yang sampai sekarang masih terlantar dan setiap musim penghujan selalu terendam air, candi tersebut bernama Candi Kedulan. Kunjungan pertama ke candi ini saya lakukan tepat pada Hari Raya Nyepi tahun 2009, saat itu masih musim hujan dan candi terendam. Kunjungan kedua saya pada bulan juli 2009 saat musim kemarau sehingga saya bisa turun ke lokasi penggalian dan melihat candi ini secara keseluruhan.

Candi kedulan terendam saat musim hujan
Candi perwara yang terendam

Lokasi :
Bulak Perung, Dsn.Kedulan, Ds.Tirtomartani, Kec.Kalasan, Kab.Sleman.

Candi ini ditemukan terpendam dalam tanah sekitar 7 m dan diketemukan secara tidak sengaja oleh penambang pasir pada 24 November 1993. Lokasi candi merupakan tanah kas desa yang kurang subur dikarenakan banyak mengandung pasir sehingga akhirnya tanah ini pun dijadikan lokasi penambangan pasir.
Lokasi candi kedulan sangat mirip dengan keadaan candi sambisari yaitu sama-sama di kedalaman sekitar 7 m. Dilokasi penggalian tersebut ditemukan reruntuhan candi induk, yoni  beserta 3 buah candi perwara. Untuk candi induk saat ini batu-batunya dipindahkan sementara ke atas pada sebuah tempat untuk dilakukan percobaan rekonstruksi sementara, sedangkan untuk ke 3 candi perwara masih berada di lokasi karena penggalian candi perwara ini terhalang tanah pertanian warga. Jadi ke 3 candi perwara ini sebagian masih terpendam dan sebagian batu-batu berserakan di lokasi penggalian. Selain itu karena lebih rendahnya lokasi candi dibandingkan sungai terdekat sehingga di lokasi penemuan candi ini belum bisa dibuatkan saluran pembuangan air seperti di candi sambisari. Akibatnya apabila sudah musim penghujan lokasi penemuan candi ini akan tergenang air dan berubah menjadi kolam.

Candi kedulan saat musim awal kemarau
Pondasi candi induk
Yoni candi kedulan
3 candi perwara
Candi perwara masih terpendam separuh
Dari hasil rekonstruksi sementara candi induk terlihat susunan badan candi dan pagar selasar pembatas candi. Beberapa ornamen yang menghias candi sudah bisa dinikmati keindahannya seperti relief dewa di beberapa bagian dinding candi, hiasan sulur-suluran, roset, serta relief motif batik.


Susunan rekonstruksi atap candi
Saya di lokasi rekonstruksi candi kedulan
Rekonstruksi badan candi dan pagar selasar
Lokasi penyusunan sementara
Relief dewa
Bilik arca
Di candi ini terdapat pos penjagaan dan informasi dari BP3 yang bertugas untuk mengamankan serta memberikan keterangan apabila ada pengunjung yang datang. Didalam  ruang tersebut disimpan bagian-bagian candi yang memang rawan hilang bila dibiarkan berada di lokasi penggalian serta anda bisa melihat puing-puing puing-puing mangkuk berhias dan barang gerabah yang diduga digunakan dalam ritual peribadatan di candi ini. Selain itu, ada juga kayu-kayu yang berasal dari pepohonan yang tumbuh semasa candi ini berdiri.


Bagian-bagian candi dan kayu purba di ruang informasi
Pada 12 Juni 2003, ditemukan 2 buah prasasti di lokasi penggalian. Prasasti yang ditulis dalam huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta tersebut sudah berhasil dibaca oleh dua epigraf dari Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yaitu Dr Riboet Darmoseotopo dan Tjahjono Prasodjo MA. Berangka tahun 791 Saka (869 Masehi, atau sekitar 10 tahun setelah candi Prambanan berdiri), isinya tentang pembebasan pajak tanah di Desa Pananggaran dan Parhyangan, pembuatan bendungan untuk irigasi, pendirian bangunan suci bernama Tiwaharyyan serta ancaman kutukan bagi siapapun yang tidak mematuhi aturan.

Tuesday, January 3, 2012

Candi Kethek

Sebuah perjalanan yang cukup panjang saya lakukan  pada libur lebaran tahun 2009 silam untuk blusukan ke lereng gunung lawu. Blusukan pertama saya ditemani oleh adik ipar dan pada blusukan kedua saya bersama dengan rombongan Bol Brutu. Target adalah  mengunjungi Candi Sukuh , Ceto dan Kethek. Perjalanan dari rumah mertua di solo terasa tidaklah begitu jauh untuk menuju ke karanganyar. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan motor saya dikarenakan akses jalan menuju candi ini sebagian besar adalah jalan pegunungan dengan tanjakan yang ekstrim saya pun tiba di candi sukuh dan berlanjut ke candi ceto. Selepas dari candi ceto saya lanjutkan perjalanan untuk menuju ke sebuah candi yang disebut dengan nama Candi Kethek.

Saya di candi kethek


Rombongan Bol Brutu pada kunjunganku kedua ke candi ini

Lokasi :
Dsn.Ceto, Ds.Gumeng, Kec.Jenawi, Kab.Karanganyar atau berada disebelah timur laut candi ceto.

Candi ini berada disebuah hutan pinus milik Perhutani , untuk menuju ke candi kethek hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki saja sekitar 15 menit dikarenakan akses jalan hanya berupa jalan setapak kecil, licin jika hujan dan disebelah berupa jurang yang dalam. Perjalanan cukup melelahkan dan harus hati-hati apabila tidak ingin terpelesat jatuh ke jurang. Dalam bahasa jawa Kethek adalah kera, mengapa dinamakan seperti itu?? yang jelas di lokasi candi ini tidak ditemukan gerombolan kera liar yang hidup di hutan ini. Mungkin nama kethek diberikan karena penduduk setempat mempercayai bagian atas dari candi ini menyerupai Hanoman, tokoh pewayangan berwujud kera putih.

Hutan pinus berkabut, lokasi candi kethek berada
Jalan setapak menuju candi
Candi Kethek
Salah satu ornamen di tangga candi
Bangunan dipuncak candi
Bentuk candi kethek sangat berbeda dengan bentuk candi yang umum berada di jawa tengah. Candi ini lebih cocok mirip bangunan megalitikum yaitu berupa punden berundak, yaitu struktur candi berupa batu yang ditumpuk dan disusun berundak-undak. Pada bagian atas candi terdapat sebuah bangunan kecil yang ditutup sarung Bali (kotak-kotak hitam putih) untuk tempat sembahyang umat Hindhu (Sebagian warga didaerah ini beragama Hindhu).
Candi ini sudah diketahui sejak tahun 1842, tetapi ekskavasi oleh BP3 Jawa Tengah bekerja sama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada dan PemKab Karanganyar baru dilakukan pada tahun 2005. Ekskavasi tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa Candi Kethek merupakan candi Hindu. Hal ini didasarkan pada temuan arca kura-kura yang merupakan simbol Dewa Wisnu, salah satu dewa dalam ajaran agama Hindu.(Sumber Wikipedia).