Wednesday, January 25, 2012

Candi Gampingan

Acara blusukan ke candi pada tanggal 12 Desember 2009 saya sempatkan untuk mengunjungi reruntuhan candi Buddha yang terletak di sepanjang Jl.Jogja - Wonosari walaupun lokasi candi ini masih agak masuk dari jalan raya tersebut.

Saya di Candi Gampingan

Lokasi :
Dsn.Gampingan, Ds.Sitimulyo, Kec.Piyungan, Kab.Bantul

Candi gampingan diberi nama sesuai dengan nama dusun candi ini berada, ditemukan pada tahun 1995 oleh warga sekitar yang hendak membuat batu bata. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno abad 8 & 9. Lompleks reruntuhan candi ini mempunyai tujuh buah bangunan candi yang tidak utuh, dengan bangunan utama berukuran kira-kira 5 m x 5 m dan tinggi 1,2 meter. Struktur candi ini terbuat dari batu putih yang mudah aus dan rusak oleh cuaca, hal ini terlihat dari struktur candi utama yang sudah mengalami aus yang cukup parah. Pada saat ditemukan, dalam candi ini terdapat tiga buah arca Dhyani Buddha Wairocana yang terbuat dari perunggu, dua buah arca Jambhala dan Candralokesvara dari batu andesit, benda-benda dari emas, dan beberapa benda-benda keramik.

Candi utama Kompleks Candi Gampingan
Candi perwara di sebelah kiri candi utama
Candi perwara di sebelah kanan candi utama
Candi perwara lain yang mungkin sekarang sudah terkubur
Candi perwara yang mungkin juga sudah terkubur kembali
Walaupun hanya tinggal reruntuhan tetapi di candi ini masih dapat dijumpai ornamen dan relief yang masih tersisa pada candi utama dan beberapa batu candi yang berserakan di lokasi candi. Relief di candi ini lebih banyak menggambarkan satwa seperti burung dan katak.

Relief Katak
Relief Burung
Sayang dari tujuh candi yang ditemukan saat ini hanya 3 candi saja yang bisa terlihat, sedangkan untuk ke 4 candi lainnya kemungkinan sudah ditimbun kembali mengingat waktu sewa tanah lahan milik warga sudah habis dan warga juga tidak mengijinkan perpanjangan sewa lagi.

Saturday, January 7, 2012

Candi Banyunibo

Pada tanggal 12 Desember 2009 blusukan di daerah sekitar prambanan saya ulangi untuk mengunjungi sebuah candi yang dulu pernah saya datangi pada saat Hari Raya Nyepi 2009. Saat itu saya tidak membawa kamera sehingga pada kesempatan ini saya manfaatkan untuk sebanyak mungkin mengambil foto candi ini. Bangunan candi ini bernama Candi banyunibo yang  berada tidak jauh dari komplek Ratu Boko, Candi Barong dan Candi Ijo. Bahkan disekitar candi ini pun banyak sekali dijumpai situs-situs candi yang berserakan dibeberapa dusun. Candi tersebut merupakan Candi Buddha yang cukup megah tetapi terpencil dan juga kurang begitu dikenal oleh masyarakat.

Candi Banyunibo

Lokasi :
Dsn.Cepit, Ds.bokoharjo, Kec.Prambanan, Kab.Sleman

Sejarah :
Candi ini diketemukan dalam keadaan runtuh dan kemudian mulai digali dan diteliti pada tahun 1940-an. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno. Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha.Arti nama candi ini yaitu  Banyunibo yang berarti air jatuh-menetes (dalam bahasa Jawa) walaupun di candi ini tidak ada tetesan air ataupun sumber air disekitar candi. Candi Banyu nibo termasuk bangunan suci Budha yang cukup kaya akan hiasan (ornament). Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama.

Hiasan yang ada di badan candi 
Hiasan pada kaki candi. Dinding kaki candi Banyunibo masing-masing sisi dibagi menjadi beberapa bidang. Bidang tersebut kemudian diisi dengan pahatan berupa hiasan tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan. Inilah sebabnya candi ini dijuluki “si sebatang kara Banyunibo” karena letaknya yang terpencil dan terpisah dari kompleks candi-candi lainnya.

Reruntuhan candi perwara berupa stupa 
Reruntuhan candi perwara 
 Dari puing-puing di sekitar, diperkirakan ada 6 buah candi perwara (candi pendamping) berbentuk stupa di sekeliling candi utama di sebelah selatan dan timur. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan. Sayangnya candi perwara ini tidak terbuat dari batu andesit melainkan batu putih yang mudah sekali aus. Di sebelah utara candi, terdapat tembok batu sepanjang 65 m membujur dari barat ke timur. Reruntuhan candi perwara berupa stupa diperkirakan berdiameter sekitar 5 m.

Arca nandi yang ditemukan didaerah bokoharjo
Batu berhias bagian dari sebuah candi
Puncak candi
Disekitar candi ini yaitu didekat pos penjagaan terdapat beberapa batu-batu candi, puncak candi dan sebuah arca nandi yang menurut satpam candi ini bukan bagian dari candi banyunibo tetapi adalah titipan. Benda-benda tersebut diketemukan didesa sekitar candi ini.

Situs Watugudig

Blusukan lagi didaerah prambanan pada Januari 2010 saya lakukan untuk menjelajahi kembali beberapa situs yang dulu pernah saya datangi sekitar tahun 2009. Situs Watu Gudig dulu sempat saya datangi tetapi saat itu saya tidak bisa masuk dikarenakan Juru Pelihara sedang tidak ada ditempat. Pada kesempatan ini saya bisa masuk dan bertemu Bp.Udiyana selaku juru pelihara situs ini.

Papan nama Situs Watu Gudig
Situs Watu Gudig

Lokasi :
Dsn.Jobohan, Ds.Bokoharjo, Kec.Prambanan, Kab.Sleman

Situs ini diberi nama cukup unik yaitu Watu Gudig, gudig berasal dari bahasa jawa yang artinya adalah suatu penyakit kulit, dan situs ini diberi nama itu karena batu-batu di situs ini banyak bercak-bercaknya seperti gudig.Penduduk setempat menamakan bebatuan tersebut dengan panggilan watugudig (watu=batu, gudig=luka/bopeng).
Situs watu gudig berada disamping makam umum dusun jobohan dan juga berada tidak jauh dari Jl.Jogja - Piyungan, hanya sekitar 6 m dari jalan tersebut. Yang tersisa di situs ini adalah sejumlah batu-batu bulat, besar, yang tersebar hampir dimana-mana. Bebatuan ini memiliki diameter terbesar 75cm sedangkan yang terkecil berukuran 53cm.

Batu ini sebagai umpak untuk pilar
Batu-batu situs watu gudig
Kemungkinan besar tempat ini adalah merupakan pendopo dengan pilar dan atap yang terbuat dari kayu yang sekarang sudah musnah. Menurut cerita yang berkembang, tempat ini dulunya merupakan sebuah pendopo besar yang konon sering digunakan oleh Prabu Ratu Boko sebagai tempat peristirahatan. Bebatuan itu nampak tersesusun rapi membentuk formasi segi empat, sementara sebagian lagi berserakan diberbagai sudut lokasi dan ada pula yang menggerombol sedikit terpisah dari formasi utama.

Batu-batu candi yang ditemukan di pemukiman warga bokoharjo
Batu candi yang ditemukan pada penggalian pondasi rumah warga bokoharjo
Salah satu bagian candi yang ditemukan disebuah lahan pertanian 
Di daerah bokoharjo ini banyak sekali ditemukan batu-batu candi yang ditemukan oleh warga secara tidak sengaja. Sebagian besar diketemukan pada saat mencangkul disawah atau pada saat menggali pondasi rumah. Demi keamanan dan kelestarian batu-batu candi tersebut dititipkan di lokasi situs watu gudig ini untuk suatu saat diadakan penelitian lebih mendalam. Di belakang situs ini tepatnya di aliran air di belakang makam ada sebuah arca yang besar yang menurut warga mereka pendam kembali karena takut dijarah, namun kurang jelas arca tersebut arca apa.

Friday, January 6, 2012

Petilasan Ngabei Kartosuro

Masih blusukan didaerah kartosuro selepas dari Keraton Kartosuro saya mampir sebentar ke rumah mertua yang kebetulan tinggal di daerah ini. Dari penuturan Ayah mertua saya selain bekas kraton ada 2 lokasi lagi yang merupakan petilasan Patih atau yang disebut dalam bahasa jawa Ngabei dari Kraton Kartosuro. Petilasan tersebut berada di 2 lokasi yang berbeda dan sayang hanya tinggal 1 lokasi saja yang masih tersisa.

Gerbang Petilasan Ngabei Kartosuro, sayang sudah diganti model modern

Lokasi :
Dsn.Singopuran, Ds.Singopuran, Kec.Kartasura, Kab.Sukoharjo

Petilasan Ngabei ini berada disebuah dusun tidak jauh dari rumah mertua saya. Di tempat ini sekarang masih ditempati sebagai rumah tinggal oleh keluarga yang mungkin masih kerabat dari Kraton Surakarta. Ditempat ini saya menjumpai tembok/pagar/benteng dari batu bata persis seperti benteng kraton kartosuro. Tebal benteng ini sekitar 1 m dan dengan ketinggian 2,5 m, lebih rendah dari tinggi benteng kraton. Didalam tembok ini ada sebuah bangunan rumah, 4 buah makam kuno dengan arca singa di halamannya.Hanya sayang saat itu saya tidak bisa masuk ke dalam karena dikunci dan tidak ada penghuni yang bisa saya temui. Petilasan ini sudah banyak mengalami renovasi dan sudah hilang keasliannya karena pintu gerbang kuno yang dulu menjadi gerbang masuk utama beserta gerbang-gerbang belakang sudah diganti dengan gerbang dengan desain modern.Hanya bentengnya saja yang tidak dirubah. Menurut cerita warga petilasan ini sangat angker dan pernah dijadikan lokasi syuting Uji Nyali Dunia Lain.

Didalam terdapat rumah , halaman luas, makam kuno dan arca singa
Pagar dari batu bata
Tinggi pagar ini sekitar 2.5 m
Tebal tembok ini sekitar 1 m
Untuk petilasan ngabei yang kedua menurut mertua saya berada di Ds.Ngabean, Kec.Kartosuro, Kab.Sukoharjo atau hanya berjarak 1 km dari rumah ayah mertua saya. Tetapi sayang sekali petilasan yang dulu hanya menyisakan sisa benteng dari batu bata ini sudah lenyap dan tidak ada bekasnya sama sekali. Menurut warga sekitar sudah dibongkar dan sekarang sudah didirikan sebuah rumah.

Petilasan Kraton Kartosuro

Blusukan di daerah Kartosuro tidaklah banyak situs atau candi yang bisa ditemukan.Peninggalan yang saya temukan di daerah ini sebagian besar adalah peninggalan Islam. Salah satunya adalah Petilasan Kraton Kartosuro.

Papan nama Kraton Kartasura

Lokasi :
Ds.Siti Hinggil, Kec.Kartasura, Kab.Sukoharjo

Sejarah :
Keraton Kartasura didirikan oleh Sunan Amangkurat II pada tahun 1679 Masehi. Sunan Amangkurat II adalah raja pengganti Sunan Amangkurat I, Raja Mataram di Keraton Plered yang melarikan diri dan meninggalkan Tegal ketika terjadi serangan Trunajaya dari Madura pada tahun 1677. Setelah Sunan Amangkurat II menjabat sebagai raja, beliau tidak mau menempati kraton di Plered karena menurut kepercayaan Jawa, Kerajaan yang sudah diduduki musuh berarti telah ternoda. Sunan Amangkurat II kemudian memerintahkan kepada Senopati Urawan untuk membuat Keraton baru di kawasan Pajang. Perintah ini dituruti dan akhirnya Senopati Urawan dibantu Nerang Kusuma dan rakyat berhasil mendirikan Keraton di sebelah barat Pajang yakni Wonokerto. Amangkurat II beserta para pengikutnya lalu menempati Keraton Baru itu yang diberi nama Kraton kartasura Hadiningrat.
Gejolak di Kerajaan Mataram ternyata tidak berhenti di situ saja. Pada tahun 1741 terjadilah pemberontakan Cina yang berakibat fatal bagi Kartasura. Pemberontakan kali ini dipimpin oleh RM.Garendhi yang bergelar Sunan Kuning (Sunan Amangkurat III) sewaktu menjadi raja. Amangkurat III bernasib justru lebih tragis. Beliau hanya memerintah kurang lebih selama 2 tahun (1703–1705) karena terusir oleh pangeran Puger yang kemudian menjadi raja dan bergelar Sinuhun Pakubuwana I. Selanjutnya pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwana II (1726–1749), Keraton Kartasura dipindahkan ke Solo tepatnya pada tanggal 17 Februari 1745 Kraton baru di Solo itu diberi nama Keraton Surakarta Hadiningrat.
Prasasti di Kraton Kartosuro
Benteng Keraton Kartosuro terlihat dari luar 
Banteng Keraton Kartosuro terlihat dari dalam
Benteng dari batu bata setebal 2 - 3 m
Tinggi benteng sekitar 3 m
Hastana Kraton
Pendopo dan komplek makam
Masjid Hastana Kraton Kartosuro
Kini Kraton Kartosuro hanya tinggal bekasnya saja, yang masih tersisa adalah pagar / tembok / benteng dari batu bata setebal 2 - 3 m dan dengan ketinggian kurang lebih 3 m.Saat ini bekas kraton ini khusunya dilingkungan benteng kedhaton sudah berubah fungsi menjadi tempat pemakamam kerabat Kraton Surakarta.

Candi Lumbung

Penjelajahan pada bulan november 2009 saya lanjutkan ke sebuah candi yang masih berada di daerah dukun ini. Blusukan saya saat itu sebelum terjadinya erupsi merpai sehingga baik jembatan sengi masih belum putus dan belum terjadi luapan lahar dingin di sungai apu. Candi yang akan saya datangi kali ini berada di tepi sungai pabelan dan juga berada dilahan persawahan warga sekitar. Bangunan tersebut bernama Candi Lumbung dan saat saya kunjungi bangunan ini dalam masa aman dari ancaman lahar dingin.

Saya di candi lumbung

Lokasi :
Dsn.Tlatar, Ds.Krogowanan,Kec.Sawangan, Kab.Magelang

Bangunan candi ini diperkirakan masih sejaman dengan candi asu dan candi pendem. Candi ini juga merupakan candi Hindhu peninggalan dari Mataram Kuno. Lokasi candi ini berada juga agak sulit dijangkau dengan kendaraan, jadi untuk menuju candi kita harus melewati pematang sawah dan kemungkinan bisa kesasar jika tidak teliti. Selain itu candi ini sebenarnya berada pada lokasi yang rawan sekali longsor, dikarenakan tepat berada hanya sekitar 1 m dari bibir Kali Apu.

Candi lumbung berada di bawah pohon kelapa tersebut
Candi ini hanya berjarak sekitar 1 m dari bibir kali apu
Candi ini diberi nama lumbung dikarenakan mungkin dahulu candi ini digunakan sebagai tempat penyimpanan beras (lumbung) oleh warga sekitar. Sedangkan sejarah kapan candi ini dibangun dan diketemukan juga tidak begitu jelas informasinya. Tidak adanya prasasti yang diketemukan di areal candi ini. Bangunan ini berukuran hampir sama dengan candi pendem yaitu dengan luas 8,7 m x 8,7 m, tinggi tangga 2,5 x 2 mdan dengan ketinggian 8 m dari lantai serta pada bagian tengah candi ini juga terdapat sumuran. Pada bagian badan candi dan relung tangga masih banyak ditemukan relief-relief yang sangat menarik diantaranya relief gana dan sulur-suluran. Makara pada tangga naik meskipun hanya tingga 1 juga masih dapar dijumpai walau sudah sedikit aus.

Tangga naik Candi Lumbung
Pintu masuk Candi Lumbung
Relief di relung tangga
Makara pada tangga naik
Ornamen di badan candi
Ornamen di badan candi
Simbar
Relief Gana
Relief bunga
Beberapa batu-batu yang belum disusun dibiarkan ditumpuk disamping candi dan ada juga yang tercecer disekitar candi. Pemugaran candi ini pun sepertinya juga belum tuntas sehingga banyak juga batu-batu candi yang ditumpuk didalam bilik candi.

Pekerja pemugaran candi lumbung di lokasi pemindahan
Rekonstruksi candi lumbung di lokasi pemindahan
Erupsi merapi tahun 2010 ternyata membawa efek yang sangat berbahaya bagi keberadaan candi ini. Terjadinya banjir lahar dingin yang melewati sungai pabelan membuat longsornya tebing-tebing disepanjang aliran sungai. Candi lumbung pun terancam longsor jika tidak diadakan tindakan penyelamatan. Akhirnya pada tahun 2011 candi lumbung pun dipidahkan sementara di Ds.Tlatar tepatnya menempati tanah milik kepala desa setempat untuk jangka waktu sekitar 5 tahun. Mudah-mudahan kedepannya candi ini bisa dikembalikan ke lokasi atau paling tidak bisa menempati lokasi yang aman dari ancaman lahar dingin.